Profil Desa

Sejarah & Visi Misi

Kenali sejarah, visi misi, dan wilayah Desa Tampaksiring.

Luas Wilayah

± 8.68 km²

Batas Utara

Desa Manukaya

Batas Selatan

Desa Sanding

Batas Timur

Kab. Bangli

Batas Barat

Kec. Tegallalang

Sejarah Desa

Awal Mula dan Legenda Kosmis
Desa Tampaksiring merupakan jantung peradaban sejarah, kebudayaan, dan spiritualitas di Pulau Dewata. Secara etimologis, nama "Tampaksiring" berasal dari kata tampak (telapak) dan siring (miring). Penamaan ini merujuk pada mitologi kuno tentang jejak pelarian Raja Mayadenawa—penguasa Kerajaan Bedahulu yang lalim—yang berjalan memiringkan kakinya demi mengelabui kejaran pasukan Sang Hyang Indra. Pertempuran epik antara kebaikan (Dharma) dan keburukan (Adharma) ini melahirkan sumber mata air suci penawar racun yang dikenal sebagai Tirta Empul. Hingga kini, mata air tersebut menjadi pusat penyucian diri (melukat) sekaligus warisan kosmis yang paling dihormati umat manusia.

Keemasan Peradaban Abad ke-11
Jauh melampaui mitologi, bukti otentik peradaban Tampaksiring telah terukir kokoh sejak abad ke-11 Masehi pada era keemasan Dinasti Warmadewa. Di sepanjang aliran suci Lembah Sungai Pakerisan, berdiri megah mahakarya arsitektur masa lalu seperti Candi Tebing Gunung Kawi yang dipahat langsung pada dinding tebing, serta situs suci Pura Mengening. Kesakralan ekologis dari peradaban kuno ini terus dijaga melalui kecerdasan sistem pengairan Subak (seperti Subak Gede Pulagan-Kumba) yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana. Keseimbangan harmoni alam dan manusia di Tampaksiring ini bahkan telah diakui secara resmi oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.

Era Kerajaan dan Panggung Diplomasi Modern
Memasuki era Bali Pertengahan, wilayah ini berevolusi menjadi pusat kekuasaan baru melalui berdirinya Puri Agung Tampaksiring yang digawangi oleh keturunan Kerajaan Klungkung. Kharisma sejarah dan alam Tampaksiring ini kelak memikat hati Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno. Pada tahun 1957, beliau memprakarsai pembangunan Istana Kepresidenan Tampaksiring. Istana yang diarsiteki langsung oleh anak bangsa ini tidak hanya menjadi tempat peristirahatan negara, tetapi juga berfungsi sebagai ruang kontemplasi bapak bangsa serta titik temu diplomasi tokoh-tokoh dunia pada era Perang Dingin.

Transformasi Desa Adat di Era Kontemporer
Saat ini, Desa Tampaksiring beserta desa adat turunannya terus bertransformasi menjadi entitas komunal yang tangguh. Dengan landasan hukum adat yang kuat (Awig-Awig dan Pararem), masyarakat lokal berhasil membentengi wilayahnya dari komersialisasi yang berlebihan. Memadukan pesona masa lalu, pelestarian ekologi lembah, serta tingginya kesadaran kearifan tata kelola warga, Tampaksiring kini berdiri bukan sekadar sebagai saksi sejarah, melainkan pusat ekowisata dan pariwisata spiritual (wellness tourism) yang menyeimbangkan tuntutan peradaban modern dengan keagungan warisan luluhur Nusantara.

Visi

Mewujudkan Tampaksiring Hebat, Menuju Desa yang Mandiri, Demokratis dan Sejahtera

Misi

  1. 1

    Menguatkan Tatanan Masyarakat Tampaksiring untuk Tampaksiring yang lebih HARMONIS sesuai dengan filosofi Tri Hita Karana.

  2. 2

    Menjadikan Desa Tampaksiring Yang maju secara EKONOMI Pertanian, Pariwisata Pedesaan,Kerajinan, Dan Ekonomi Kreatif.

  3. 3

    Menjaga dan Melestarikan Nilai Nilai BUDAYA, Aktifitas Seni dan Peninggalan Budaya untuk Tampaksiring Yang Berbudaya.

  4. 4

    Menjadikan Desa Tampaksiring untuk tetap AMAN dan Nyaman disektor keamanan lingkungan, kesehatan, dan pendidikan.

  5. 5

    Mendorong dilaksanakannnya Pemerintahan Desa yang TERTIB dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan, pembangunan, Pembinaan dan kemasyarakatan.